Asmaul Husna (kelas X Semester Genap)






ALLAH memiliki nama-nama yang baik yang disebut dengan Asmaul Husna.
Rasulullah SAW menjelaskan bahwa al-Asma al-Husna ini jumlahnya ada 99, karena ALLAH menyukai bilangan yang ganjil.

Sesungguhnya ALLAH mempunyai sembilan puluh sembilan nama, yaitu seratus kurang satu. Barangsiapa menghitungnya, niscaya ia masuk surga. (H.R. Bukhari dan Muslim)

Sembilan puluh sembilan nama tsb menggambarkan betapa baiknya ALLAH. Nama-nama dalam Asmaul Husna ini, ALLAH sendirilah yang menciptakannya.

Dia-lah ALLAH yang Menciptakan, yang Mengadakan, yang Membentuk Rupa, yang Mempunyai Nama-Nama yang Paling baik. Bertasbih kepada-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Dan Dia-lah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Al-Hasyr: 24)

Sebutlah nama-nama ALLAH, dalam setiap zikir dan doa kita. Jika kita memohon diberi petunjuk, sebutlah nama Al-Hâdi (Maha Pemberi Petunjuk). Jika kita mohon diberi sifat kasih sayang, sebutlah nama Ar-Rahmân (Maha Pengasih). Semoga doa kita akan semakin makbul.
Anjuran untuk menggunakan Asmaul Husna dalam berzikir dan berdoa, diterangkan oleh ALLAH SWT dalam Al-Quran.

Hanya milik ALLAH asma-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asma-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan. (QS. Al-A'râf: 180)

Asmaul Husna hanya milik ALLAH SWT. Manusia sebagai makhluk-Nya hanya dapat memahami, mempelajari, dan meniru kandungan makna dari nama yang baik tsb dalam kehidupan sehari-hari.


Yang menjadi pembahasan kali ini adalah mengenai 10 nama saja, yaitu:
86 al-Muqsith Yang Maha Adil An-Nuur: 47
97 al-Waarits Yang Maha Mewarisi Al-Hijr: 23
92 an-Naafi' Yang Maha Pemberi Manfaat Al-Fath: 11
21 al-Baasith Yang Maha Melapangkan Ar-Ra'd: 26
38 al-Hafiizh Yang Maha Penjaga Huud: 57
55 al-Waliyy Yang Maha Melindungi An-Nisaa': 45
47 al-Waduud Yang Maha Mengasihi Al-Buruuj: 14
23 ar-Raafi' Yang Meninggikan Al-An'aam: 83
24 al-Mu'izz Yang Maha Terhormat Aali 'Imran: 26
82 al-'Afuww Yang Maha Pemaaf An-Nisaa': 99

Penjelasannya sebagai Berikut.
1. Al-Muqsith
Dia adalah Dzat yang mengambil hak orang yang teraniaya dari orang yang menganiaya. Dan
kesempurnaan-Nya adalah dengan menjadikan orang teraniaya itu merelakan perbuatan orang yang menganiayanya. Ini merupakan puncak dari sifat adil tanpa pandang bulu, dan tidak bisa dilakukan kecuali oleh Allah SWT.

Contohnya adalah hadis yang diriwayatkan dari ‘Umar bin Khaththab r.a., bahwa ketika Nabi saw. sedang duduk, tiba-tiba beliau tertawa hingga tampak giginya yang putih berseri, lalu ‘Umar bertanya: “Wahai Rasululllah, apa yang menyebabkan Tuan tertawa?”

Rasulullah menjawab: “Dua dari umatku berlutut berkata: ‘Ya Rabb, ambillah hakku dari orang yang menganiayaku ini!’

“Lalu Allah SWT berkata kepada orang yang menganiayanya itu: ‘Kembalikan kepada saudaramu semua yang kauambil darinya dengan aniaya!’

“Orang itu menjawab: ‘Ya Rabb, tidak ada lagi kebaikan yang tersisa padaku!’

“Lalu orang yang teraniaya itu berkata: ‘Ya Rabb, timpakanlah dosa-dosaku kepadanya!’

Kemudian Rasulullah saw. menangis seraya berkata: “Itulah hari yang mahadahsyat, sehingga orang perlu minta supaya dosanya ditanggungkan kepada orang lain.”

Beliau melanjutkan “Kemudian Allah berkata kepada orang yang teraniaya itu: ‘Angkatlah pandanganmu dan lihatlah ke dalam surga!’

“Lantas orang itu berkata: ‘Ya Rabb, aku melihat kota-kota terbuat dari perak dan istana-istana

terbuat dari emas dihiasi dengan permata, untuk siapakah ia gerangan? Untuk nabi yang mana, atau untuk shiddiq yang mana, atau untuk syahid yang mana?’

Allah menjawab: ‘Ia Aku berikan kepada orang yang memberikan harganya!’

“Orang itu bertanya: ‘Ya Rabb, siapakah yang mammpu membayar harganya?!’

“Allah menjawab: ‘Engkau bisa memberikan hargaanya.”

Tanya: ‘Dengan apa?’

Jawab: ‘Dengan pemberian maafmu kepada saudaraamu!’

“Orang itu berkata: ‘Ya Rabb, aku telah memaafkannnya.’

“Lalu Allah berkata: ‘Peganglah tangan saudaramu itu dan bawalah masuk bersamamu ke dalam surga.’

Kemudian Nabi saw. bersabda: “Takutlah kamu sekalian kepada Allah, dan berdamailah di antara sesama kamu, karena sesungguhnya Allah SWT kelak pada hari kiamat juga akan mendamaikan antara sesama kaum mukminin.

Khasiatnya
Barangsiapa berzikir dengan ism ini secara rutin, maka Allah akan mencegah waswas darinya.

2. Al Waarist


Al Warits ialah Dzat yang kekal sesudah segala yang maujud musnah. Dalam arti lain, Dialah yang mewarisi segala sesuatu sesudah semua penghuninya musnah. Atau, Dialah yang kembali kepada-Nya semua milik dan kerajaan ketika sudah tidak ada lagi tuntutan kerajaan bagi siapa pun.

Firman Allah:

Sesungguhnya Kami mewarisi bumi dan semua orang yang ada di atasnya … (QS Maryam: 40)

Perhatikanlah, tatkala sangkakala ditiup dan semua makhluk sudah musnah, Allah berfirman: Milik siapakah kerajaan pada hari ini? Ketika tidak ada jawaban, Dia sendiri menjawab: Milik Allah yang Mahaesa lagi Maha Mengalahkan!

Orang-orang yang memandang dengan mata hati senantiasa menyaksikan makna ayat ini dan mendengarkannya. Mereka yakin bahwa kerajaan itu hanya milik Allah sendiri, pada setiap hari, setiap saat, dan setiap detik, karena itulah Dia azali dan abadi. Hal ini dapat dicapai oleh mereka yang memahami hakikat tauhid, dan mengetahui bahwa yang tunggal perbuatannya di langit dan di bumi hanya satu.

Berakhlak dengan ism ini mengharuskan Anda menjadi warits dari apa yang telah dilakukan oleh orang-orang saleh, sebab ulama itu adalah pewaris para nabi.

Khasiatnya
Ism ini berkhasiat untuk menghilangkan kebingungan bagi orang yang berzikir dengannya.

3. 91. Adh Dharr & 92. An Nafi’


Kedua ism ini adalah ism sifat yang menunjukkan kesempurnaan kekuasaan Allah. Tidak ada kemudharatan, keemanfaatan, kejahatan, dan kebaikan kecuali dengan iradah-Nya jua.

Allah SWT berfirman:

Katakanlah, bahwa semuanya berasal dari sisi Allah.

Namun adab terhadap hak Allah itu mengharuskan agar kejahatan itu dinisbatkan kepada hamba. Sebagaimana ditunjukkan dalam firman Allah dalam mengajak manusia supaya bersikap adab terhadap hak-Nya:

Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri … (QS An Nisa’: 79)

Lihatlah adab Sayyidina Khidhir a.s. yang telah meenisbatkan keaiban kepada dirinya sendiri, sebagaimana diceritakan oleh Allah di dalam firman-Nya:

… dan aku bermaksud merusakkan bahtera itu … (QS Al Kahfi: 79)

Padahal, dari cerita sebelumnya, dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa beliau melakukan itu adalah atas petunjuk dan kehendak dari Allah, seperti terungkap dalam firman Allah berikut:

… dan bukanlah aku melakukan itu menurut kemauanku sendiri … (QS Al Kahfi: 82)

Dikatakan bahwa Yang Memberi mudarat dan Yang Memberi Manfaat itu ialah Dzat yang berasal dari-Nyalah segala kebaikan, kejahatan, kemanfaatan, dan kemudaratan, dan itu semua dinisbatkan kepada Allah SWT; baik dengan perantaraan malaikat, manusia, benda-benda mati, maupun tanpa perantara. Janganlah Anda sangka bahwa racun itu sendiri yang mematikan atau mencelakakan, dan bahwa makanan itu sendiri yang mengenyangkan atau memberi manfaat, dan bahwa malaikat, manusia, setan atau makhluk lain seperti planet, bintang, dan lain-lain bisa memberikan kebaikan, kejahatan, kemanfaatan atau kemudaratan dengan dirinya sendiri. Semua itu adalah dengan sebab-sebab yang ditundukkan bagi mereka.

Ber-taqarrub dengan kedua ism ini menghendaki Anda tidak mengharapkan kemanfaatan dari selain Allah SWT dan tidak minta tolong dari kesulitan kepada selain-Nya.

Khasiatnya
Barangsiapa berzikir dengan ism Adh Dharr tiap-tiap malam Jumat sebanyak seratus kali, maka ia akan mendapatkan derajat yang dekat keapada Allah SWT. Sedangkan khasiat ism An Nafi’ adalah, bahwa jika seseorang yang sedang ‘berkumpul’ dengan istrinya berzikir dalam hatinya dengan ism ini, niscaya istrinya akan mencintainya dengan sepenuh hatinya, dan akan dikaruniai anak-anak yang saleh.

4. 21. Al-Qabidh, 22. Al-Basith


Al-Qabidh artinya Dzat yang menahan rezeki dari orang yang dikehendaki-Nya dengan cara yang dikehendaki-Nya. Sedangkan Al-Basith adalah lawannya, yaitu Dzat yang meluaskan rezeki dengan cara yang dikehendaki-Nya kepada orang yang dikehendaki-Nya.

Dikatakan bahwa Al-Qabidh ialah Dzat yang mencabut nyawa pada saat kematian; sedangkan Al-Basith ialah meluaskan bayangan bagi arwah di dalam kehidupan.

Ada pendapat lain yang mengatakan bahwa Al Qabidh ialah Dzat yang menerima sedekah dari orang-orang kaya, sedangkan Al-Basith ialah Dzat yang memberi reezeki kepada orang-orang lemah dan meluaskan rezeki kepada orang-orang kaya sehingga tidak tersisa kemelaratan, dan menahannya dari orang-orang miskin sehinggga tidak tersisa kemampuan.

Berakhlak dengan kedua ism ini adalah dengan menahan diri dari semua selain dari Dia, dan melapangkan diri dalam setiap sesuatu yang diridhai-Nya. Tidak menyusahkan orang lain dan tidak terlalu menaruh kepercayaan kepada mereka.

Khasiatnya
Barangsiapa menuliskan ism Al-Qabidh pada empat puluh iris roti selama empat puluh hari, maka ia tidak akan merasakan sakitnya penyakit. Dan khasiat ism Al-Basith adalah: jika seseorang berzikir dengannya seusai mengerjakan shalat Dhuha sebanyak sepuluh kali, sambil mengangkat kedua tangannya ke langit dan kemudian menyapukannya ke mukannya, niscaya Allah akan membukaakan baginya salah satu pintu kekayaan.